Selasa, 22 Desember 2009

SOSIALISASI

Patut disyukuri bahwa permainan gasing (Gasing Berembang) tidak lagi dipandang hanya sebuah permainan tradisional sebagaimana yang kita kenal selama ini, tetapi sudah diangkat menjadi Olahraga Prestasi Tingkat Nasional yang memiliki Peraturan dan Tatatertib Pertandingan Gasing Tingkat Nasional.
Hal ini berkat gagasan dan prakarsa Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata melalui Direktorat Tradisi serta atas perjuangan tokok gasing Kepulauan Riau H. Asmui Bakar yang diundang ke Jakarta untuk mengikuti Workshop dan Pameran Permainan Rakyat Tradisional Gasing pada tahun 2005 di Ragunan Jakarta, telah berhasil meyakinkan semua peserta dari 11 Provinsi yang hadir, bahwa Gasing Berembang dari Natuna Kepulauan Riau disepakati untuk diangkat menjadi salah satu cabang Olahraga Prestasi Tingkat Nasional yang memiliki Peraturan dan Tata Tertib Pertandingan Gasing Berembang Tingkat Nasional sebagaimana Draft Peraturan dan Tata Tertib disusun oleh Tim Penyusun Peraturan dan Tata Tertib Pertandingan Gasing Berembang Tingkat Nasional dalam Lokakarya Gasing Nusantara di Tanjungpinang pada tahun 2006 yang diketuai oleh H. Asmui Bakar dan Sekretaris Drs. Abdulkadir Ibrahim.
Tindaklanjut dari kegiatan tersebut telah pula dilakukan Uji Petik Pedoman Peraturan dan Tata Tertib Peraturan Pertandingan Gasing Berembang Tingkat Nasional dilaksanakan di Pangkal Pinang dan Jakarta (tahun 2007)
Pada tahun 2008, Pedoman Peraturan dan Tata Tertib Pertandingan Gasing Berembang Tingkat Nasional tersebut telah dilaksanakan sosialisasi di 8 daerah Indonesia yaitu: Purworejo (Jawa Tengah), Pontianak (Kalbar), Lamongan (Jawa Timur), Tanjungpinang (Kepri), Bangka Barat (Babel), Tanjungkarang (Lampung), Ambon (Maluku), dan Lombok barat (NTB).
Pada tahun 2009 (31 Juli - 2 Agustus 2009) telah dilaksanakan pula Uji Coba Pertandingan Gasing Berembang Tingkat Nasional di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta yang diikuti oleh peserta: Tanjungpinang (Kepri) , DKI Jakarta, Pangkal Pinang (Babel), Ambon, Lamongan, Purworejo, Pontianak (Kalbar), Lombok dan Bali dengan hasil pertandingan sebagai berikut:
Juara I Bali
Juara II DKI Jakarta
Juara III Tanjungpinang (Kepri)
Juara IV Lamongan (Jatim)

Senin, 21 Desember 2009

PANGKAK GASING

Hingga saat ini, permainan gasing masih dilakukan secara aktif oleh kaum pria berasal dari suku Melayu di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Selain dalam kompetisi tertentu antar wilayah di Natuna, permainan gasing juga dilakukan sebagai atraksi pada acara peringatan Hari kemerdekaan RI setiap 17 Agustus dan Hari Raya Idul fitri.
Gasing merupakan salah satu permainan rakyat yang bersifat tradisional dan telah dikenal sejak lampau di Natuna. Gasing (gasing Bunguran-Natuna), yaitu nama suatu alat untuk bermain yang terbuat dari kayu. tentunya gasing diproduksi dalam berbagai jenis, tangon (corak), dan ukuran tertentu.
Seperti diketahui, gasing terdiri dari beberapa bagian, yaitu tungking, talak, talam bawah, badan, bening, dan kepala. Gasing dapat berputar dengan cara di-gual memakai tangan atau tali dan mengeluarkan suara mendengung.
Bahan pembuat gasing khas Natuna adalah dari berbagai jenis kayu, seperti kayu pelawan punai, pelawan tanduk, gemeris, tiampan, mentigi, asam jawa, sikop, rukam, mentulang, dan kayu burun.
Jenis gasing Bunguran-Natuna antara lain, Gasing Tarah yang dibuat dengan menarah menggunakan kapak atau parang. Selain itu juga ada Gasing Larik yang dibuat menggunakan alat larik/bindu. Cara membuat gasing yang dikenal sebagai melarik gasing ini mempunyai dua fungsi, yakni untuk permainan maupun untuk suvenir khas kerajinan rakyat.
Nama-nama gasing yang diberikan berdasarkan jenis dan fungsi di Natuna adalah Gasing Penendin, Gasing Pemangkak, dan Gasing Penahan. Sementara, nama-nama gasing yang didapat berdasarkan motif dan warnanya seperti Gasing Paras Gantang, Tawak, Batu Dacing, Janda Berias, Buah Berambang, Limau Manes, Buah Manggis, Tudung, dan Cantong.
Salah satu perajin gasing untuk permainan dari Natuna adalah H Asmui Bakar. Menurut Asmui Bakar, sebenarnya permainan gasing dilakukan oleh pria-pria di Natuna setiap hari. Namun seiring perjalanan waktu, permainan gasing hanya dilakukan jika ada acara-acara tertentu atau memperingati hari-hari tertentu serta Hari Raya.
Produksi gasing yang kini masih dilakukan puluhan perajin di Natuna, kata Asmui Bakar, masih menggunakan alat-alat tradisional yang terbilang sederhana. Namun demikian, dengan alat-alat itu justru bisa menghasilkan produk gasing yang indah sekaligus memiliki komposisi dan kesimbangan yang pas.
Dalam permainan gasing, terdapat dua keompok atau regu yang bertanding. Satu kelompok terdiri dari 3 sampai 5 orang. Secara bergantian, satu kelompok memutar gasing dengan tali/benang khusus. Selain lamanya putaran, keunggulan produk gasing juga dilihat dari kualitas kayu dan kemampua mematikan gasing lawan.
Dalam permainan ini, sangat ditekankan unsur kerja sama dan kekompakan antara anggota kelompok. Selain itu, setiap kelompok juga harus mengetahui secara pasti kekuatan gasing-gasing andalannya, selain juga harus bisa mencari tahu kekuatan gasing-gasing milik lawan.
Filosofi dari permainan gasing ini adalah dibutuhkan suatu kerja sama dan saling membantu antara sesama kawan. Selain itu, permainan gasing ini juga sebagai cermin bahwa masyarakat harus tahu potensi kekuatannya sehingga bisa menjadi pegangan hidup, selain mengatur masalah manajemen waktu yang tepat.
Kini, Asmui bersama rekan-rekannya di Natuna secara konsisten terus memproduksi gasing. Selain digunakan sehari-hari dalam even-even tertentu, gasing juga sudah ditetapkan sebagai produk khas Natuna.
Dalam hal ini, dari kegiatan produksi gasing, kebutuhan hidup para perajin masih tercukupi. Ini karena pemerintah daerah setempat secara konsisten terus mempertahankan dan menjadikan permainan gasing sebagai ciri khas budaya lokal.

Sabtu, 19 Desember 2009

GASING

Gasing adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan berkesetimbangan pada suatu titik. Gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali. Gasing merupakan salah satu permainan tradisional Nusantara, walaupun sejarah penyebarannya belum diketahui secara pasti.
Di wilayah Natuna, Tanjungpinang, Anambas dan Binta (Kepulauan Riau), permainan gasing telah ada jauh sebelum penjajahan Belanda. Permainan ini dilakukan oleh anak-anak dan orang dewasa. Biasanya, dilakukan di pekarangan rumah yang kondisi tanahnya keras dan datar. Permainan gasing dapat dilakukan secara perorangan ataupun beregu dengan jumlah pemain yang bervariasi, menurut kebiasaan di daerah masing-masing. Hingga kini, gasing masih sangat populer dilakukan di sejumlah daerah di Indonesia. Bahkan warga di kepulauan Riau rutin menyelenggarakan kompetisi antar grup.